Sayangnya perjalanan revolusi GE yang dipimpin
Neutron Jack bukanlah tanpa cela dan hambatan. Ini disebutkan dalam Bab Tujuh
buku Tichy dan Sherman : Tidak Ada yang Suci.
Tidak semua yang direncanakan dan diinginkan Jack
terlaksana dengan baik. Bahkan ada yang gagal. Ingat : Jack tetaplah manusia
biasa.
Salah satu sifat Jack Welch yang kerap dianggap negatif oleh orang lain adalah kegemarannya berperang kata. Ia tidak segan-segan menyerang dengan kata-kata yang menusuk. Berikut kutipan dari Majalah Fortune tentang sosok Jack Welch :
Menurut bekas karyawan, Welch melangsungkan pertemuan secara begitu agresif sehingga orang gemetar. Dia menyerang hampir secara fisik dengan inteleknya – mencela, merendahkan, mengejek, menghina.
“Jack menyerang seperti kawanan gajah,” kata
seorang karyawan GE. “Kalau orang punya gagasan yang berlawanan dia harus
bersedia menerima cercaan karena mengemukakannya.”
Mengerikan bukan? Jika kita melihatnya dari sisi
kehidupan demokratis yang sedang digilai oleh dunia saat ini : Jack Welch adalah
diktator mengerikan di GE. Sayangnya ini bukan negara, Jack mengelola
perusahaan.
Jika ingin mencari sebuah alasan, Jack Welch melakukan
ini karena ingin GE segera berubah. Keadaan sudah sedemikian mendesak untuk
tetap dalam keadaan stagnan tanpa perubahan. Jika tidak segera berubah, maka GE
akan terlindas oleh zaman. Itu sebabnya ide dan gagasan yang dirasa menghalangi
perubahan akan langsung dilindas tanpa ampun. Menjadi hal wajar jika ia akan
menyerang ide yang bertentangan dengan visi CEO dirinya.
Tapi bukan berarti cara itu bagus. Jika kita
menerapkan cara itu sekarang di GE, belum tentu hasilnya sebaik kepemimpinan Jack
Welch.
Hal positif yang harus dilihat bahwa pada dasarnya
penyerangan Jack Welch dilakukan sebagai bagian dari strategi Workout yang sedang dibudayakan di GE.
Ia membuka pintu ruang kerjanya agar bisa didebat secara konseptual oleh
siapapun.
Ada kisah lain yang menggambarkan kegagalan Jack Welch
dalam perjalanan revolusinya. GE di era
Jack Welch, menginvestasikan lima ratus juta US dollar pada sistem otomatisasi
pabrik. Sebuah hal yang sangat di tentang oleh Kaum Marxian tentunya. Dugaan GE,
akan ada keuntungan hingga tiga puluh milyar US Dollar. Dalam perjalanannya, Jack
Welch membeli Calma dan Intersil, dua perusahaan khusus mengelola pembuatan
produk otomatisasi pabrik yang cukup kecil untuk ukuran GE.
Bukan untung, bisnis ini malah mengalami kerugian hingga
seratus dua puluh juta US dollar. Menyadari kesalahannya, segera Jack Welch menjual dua perusahaan tadi. Ia juga segera menggulung segala hal berbau bisnis otomatisasi pabrik. Jack Welch memutuskan agar GE tidak mengelola bisnis ini sendiri. Segera GE bekerja sama dengan Fanuc dari Jepang untuk membangun bisnis otomatisasi pabrik. Dari sana GE tidak lagi mengalami kerugian.
Begitulah Jack Welch, meski melakukan kesalahan. Ia mengakuinya dengan jantan. Ia pun segera mengeluarkan jalan keluar. Ia mengucapkan :
Saya tidak merasa keberatan berbuat salah. Yang penting adalah menang lebih banyak dari jumlah kekalahannya.
Inspiratif bukan?

No comments:
Post a Comment