Binkalogi - Pemimpin belum tentu duduk di kursi pimpinan! Begitu ungkap seorang senior saya dulu saat pemaparan materi Manajemen Organisasi. Dalam artian, bisa saja seseorang yang duduk di kursi paling tinggi dalam struktur organisasi bukanlah pemimpin bagi organisasi tersebut. Ia hanya pimpinan.
Bisa begitu?
Bisa saja. Sebab kepemimpinan tidak bisa ditentukan dari tingginya jabatan. Kepemimpinan selalu bicara pengaruh. Jadi kalau anda sudah menjadi pejabat, tapi tidak memiliki pengaruh : anda bukan pemimpin. Lebih tepatnya anda hanya manajer yang memiliki daya tawar karena posisi struktural belaka.
Wah menarik memang membicarakan materi kepemimpinan. Bahkan sekarang ada variabel lain yang mempengaruhi manajemen organisasi selain kepemimpinan, yakni kepengikutan. Waduh ada lagi yang begini ya? Begitulah menariknya membicarakan kepemimpinan.
Sayangnya materi blog binkalogi yang ketiga ini masih bicara soal kepribadian dalam buku Florence Littauer. Tepatnya kepribadian Koleris yang berkaitan erat dengan kepemimpinan.
Pada dasarnya kepribadian koleris dicirikan dengan kepribadian yang ekstrovert, pelaku dan optimis. Ia bukan orang yang berada di belakang barisan. Selalu berada di depan. Tingkahnya pun bukan mendorong orang di belakangnya. Tapi mengajak, mempengaruhi dan menarik mereka untuk mencapai sebuah tujuan.
Sebab itu kepribadian koleris kerap dicirikan dengan bakat pemimpin. Ia selalu berorientasi ke target. Jika si melankolis cenderung menghargai proses step by step, maka si koleris akan memilih jalan pintas jika ada yang lebih cepat.
Meski kadang terkesan keras, tapu si koleris justru senang dengan adanya persaingan. Lihat rekan kelas anda, jika ada yang sangat bersemangat mengalahkan semua orang bisa jadi ia adalah koleris. Sebaliknya, saat ia berada di puncak dan kehilangan penantang, koleris akan lesu tanpa gairah.
Jadi jangan terlalu berharap si koleris butuh teman dalam bergerak. Ia bisa melakukan semuanya sendiri-setidaknya begitu perasaannya-. Nah, di lingkungan kita, bisa saja ada orang yang demikian. Ia tidak peduli dengan orang yang sangat lamban dalam bergerak. Ia memulainya lebih dulu dibandingkan orang lain.
Berteman dengan orang koleris bisa membuat hidup kita sangat dinamis. Akan banyak hal yang ia lakukan karena ketidaksukaannya dengan pola monoton. Jika anda punya pasangan yang begini, jangan harap anda akan tenang dengan kegiatan yang itu-itu saja.
Koleris umumnya bisa ditemukan di organisasi-organisasi yang nyaris mati lalu hidup kembali. Atau bisa juga ditemukan diorganisasi yang stagnan lalu bubar seketika. Siapa pelakunya? Tak lain tak bukan si koleris. Ia akan berusaha menghidupkan organisasi yang loyo tak bernyawa dengan kekuatan yang ia miliki. Memangkas struktur organisasi agar lebih luwes ataupun mengganti orang lama dengan orang baru.
Tapi bisa juga ia justru membuat organisasi yang ada bubar. Jika organisasi yang diikutinya stagnan, lalu si koleris melihat sudah tidak ada harapan, bisa saja ia meninggalkan organisasi itu lalu membuat organisasi serupa yang baru. Tentu saja ia yang jadi motornya. Kelakuan seperti ini biasanya membuat orang di organisasi lama tertarik dan meninggalkan tempat lama menuju tempat baru. Dampaknya, organisasi lama menjadi bubar.
Terlihat betapa serunya hidup si koleris. Maka tak heran, meski tak begitu butuh teman, selalu ada orang yang ingin menjadi partnernya karena pengaruh yang dimiliki. Berbeda dengan sanguinis yang banyak teman karena ia adalah pusat perhatian. Si koleris memiliki teman karena pengaruhnya yang kuat.
Maka jika anda bukan koleris, tapi memiliki rekan koleris, siap-siap saja. Anda akan ikut dipengaruhi oleh kelakuan orang ini. Sekalipun anda awalnya menolak, diujung kesempatan anda akan mengiyakan dan mengikutinya. Repot memang.
No comments:
Post a Comment