Misteri Keajaiban Kepribadian Sanguinis

Binkalogi - Sudah lama saya membaca buku karya Florence Littauer. Buku yang awalnya justru dikenalkan oleh teman yang mabuk MLM (Multi Level Marketing). Sebuah MLM yang cukup menggurita di kalangan anak kuliahan saat itu. Tentu saja saya juga jadi sasaran MLM ini.
Janji manis bertebaran. Misal jalan-jalan ke Singapura jika menjadi member dan memperoleh pangkat tertentu. Nyaris menyaingi janji kampanye politisi yang bilang kesejahteraan sampai akhirat jika memilih dia. Hehehe
Satu kalimat yang saya ingat dari teman yang nyatanya sekarang jadi anti MLM ini : kamu ini sanguinis. Sehingga mudah menarik member kalau ikut bergabung ke sini (MLM yang u know lah namanya).
Apakah saya join? Tidak. Tapi setidaknya dari obrolan itu saya kenal dengan dua buah buku tentang kepribadian. Keduanya akan saya ulas  perlahan di blog saya ini. Apakah tujuannya untuk viewer? Utamanya sih tidak. Anggap saja sebagai bagian dari review bacaan yang sudah tentu bagian dari aktifitas positif.
Setelah sekian purnama obrolan dengan Mas MLM tadi berlangsung, di tahun 2013 saya punya kesempatan melihat buku Personality Plus nangkring di jejeran toko buku super KW di Tebing Benteng, Rejang Lebong. Sekarang sih sudah kurang gerakan toko seperti ini karena kalah dengan yang online-online.
Sejak awal membaca, kita akan disuguhkan cerita kehidupan penulis. Jadi Littauer tidak memberi contoh yang muluk-muluk. Ia hanya bercerita soal Fred yang notabene adalah pasangan hidupnya. Tentu saja ia lebih sering cerita tentang dirinya sendiri.
Dengan gaya tulis yang santai begini, Littauer mencoba menjelaskan dan menjabarkan satu demi satu tipe kepribadian versi Hippocrates ini.
Kepribadian yang pertama dituliskan adalah kepribadian Sanguinis. Kebetulan ini adalah tipe kepribadian yang dituduhkan Mas MLM kepada saya.
Sempat terpikir : kok bisa Mas MLM ini menuduh saya Sanguinis?
Ternyata tipe kepribadian Sanguinis bisa dicirikan secara garis besar dengan tiga hal berikut : Ekstrovert, Membicara, dan Optimis.
Semua yang kenal saya tahu bahwa saya hobi bicara (saya sudah berusaha menge-remnya namun selalu sulit). Tipe membicara yang saya miliki cenderung membuat saya ekstrovert. Saya tidak segan bercerita tentang saya. Setengah narsis-lah ya. Optimis? Bisa jadi.
Jadi wajar saya dianggap Sanguinis oleh Mas MLM. Meski kenyataannya tidak demikian. Ada tipe kepribadian lain yang lebih pas dengan saya. 😁
Nah berbicang soal kepribadian Sanguinis, kita bisa melihatnya di sekitar kita. Jika ada yang menjadi pusat perhatian saat ngobrol-ngobrol. Lalu bahan pembicaraan yang ia berikat penuh kekonyolan. Nah, orang ini bisa diduga si Sanguinis.
Jika orang dengan tipe Sanguinis tidak hadir dalam sebuah acara, suasana akan terasa hambar atau ada yang kurang. Meski sering kali pembicaraan yang ia tawarkan kurang berbobot, tapi kealpaannya membuat si Sanguinis begitu dirindukan. Ya mirip daun salam lah kurang lebih. Jika tidak diletakkan di masakan akan ada aroma yang kurang pas. Tapi saat jadi masakan, sedikit orang yang mau memakan daun salam.
Lantas, seremeh itukah kepribadian Sanguinis?
Tentu saja tidak. Tidak ada kepribadian yang lebih baik dari kepribadian lainnya. Begitu yang saya tangkap setelah selesai membaca buku ini.
Begitu halnya dengan Sanguinis. Dengan kepribadian yang selalu menjadi pusat perhatian, si Sanguinis dengan sendirinya menjadi sosok sukarelawan. Jika punya pekerjaan berbau sosial, ajaklah sanguinis. Ceritakan keuntungan yang berbau pergaulan luas. Ia akan sukarela mengikuti.
Kegemarannya bergaul dimana saja ini membuat Sanguinis menjadi kreatif dan inovatif. Sebab itu Littauer merangkumnya dengan kalimat : hidup di masa sekarang.
Sanguinis memiliki tenaga berlebih dalam berkegiatan, ceria dan menghidupkan suasana. Sebab itu jangan sering mengajak Sanguinis ikut renungan malam. Ia bisa saja menangis tersedu-sedu saat kegiatan dilakukan. Keesokan harinya ia akan menjadikan tangisannya itu bahan pembicaraan untuk ditertawakan bersama-sama.
Lalu apa hal terkeren dari sanguinis?
Sanguinis bisa menjadi inspirator orang-orang untuk bergerak. Jika ia menjadi leader sebuah perusahaan, ia akan menjadi sosok didepan yang mengajak bawahannya ikut bekerja. Tentu saja dengan inovasi dan kejenakaan yang dimilikinya. Rasanya akan sulit stress bekerja dengan orang seperti ini.

No comments:

Post a Comment