Bagian kedua pada buku Demokrasi Kita ini berjudul Kebangsaan dan Kerakyatan. Dua kata yang dijelaskan lumayan mendetail oleh proklamator kita. Setelah dibaca, kedua kata ini adalah inti dari organisasi yang didirikan oleh Bung Hatta yang ikut mengisi khazanah perpolitikan di awal kemerdekaan negara ini. Sebagaimana diketahui, Bung Hatta mendirikan partai yang disingkat PNI. Bukan Partai Nasionalis Indonesia. Melainkan Pendidikan Nasional Indonesia.
Bukan berarti kita membahas politik praktis kekinian pada tulisan kali ini. Kita membahas makna kebangsaan dan kerakyatan yang memang menjadi kunci dalam Pendidikan Nasionalis Indonesia.
Bagi Bung Hatta, kebangsaan lebih kokoh dibandingkan paham lain dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tak hanya dalam memperjuangkan, tapi juga untuk mempertahankan dan mengisinya nanti. Paham internasionalisme yang konon menggurita sejak dulu (dan sekarang pun masih ada) tidaklah memiliki kekuatan yang hebat sebagaimana platform gerakan internasionalisme itu sendiri.
Secara mudah, internasionalisme bisa dijelaskan sebagai paham yang melewati batas negara dan bangsa. Contohnya : ia tidak hanya memperjuangkan Indonesia saja, tapi juga negara lain dalam satu kesatuan. Apa ada organisasi seperti ini? Ada. Bahkan saat ini masih ada.
Pada zaman dulu, ada PKI (Partai Komunisme Indonesia) yang menganut paham ini. Hanya namanya saya yang ada Indonesianya. Kenyataannya PKI memiliki hubungan erat dengan Uni Sovyet (dikenal poros Moskow). Juga memiliki kontak dengan poros Beijing yang hingga hari ini menganut sistem satu partai sesuai ciri komunisme negara.
Pada zaman sekarang, ada organisasi yang sudah dibubarkan dan dilarang di negara ini oleh Presiden Joko Widodo. Memiliki tujuan menegakkan pemerintahan khilafah yang tidak mengenal batas negara.
Kesannya memang paham internasionalisme lebih tinggi dari paham nasionalisme. Sebab ia tidak hanya merangkul manusia-manusia dalam satu bangsa saja. Tapi semua manusia di berbagai bangsa dirangkul untuk mencapai satu tujuan. Dalam tulisan Bung Hatta, tujuan itu bisa dimaksudkan sebagai kemerdekaan.
Bagi Bung Hatta, internasionalisme adalah paham yang rapuh. Sudah banyak bukti bahwa internasionalisme hanya menang slogan tapi kosong tindakan. Ia menguraikannya sebagai berikut :
...suatu bukti yang menyatakan, bahwa internasionalisme di mulut bekum tentu internasionalisme di hati. Tatkala kerajaan Ustria-Unggaria masih ada, masih aatu negara, terdapat di sana perpisahan-perpisahan dalam golongan sosial demokrasi menurut bangsa masing-masing. Dasar dan tujuan partai-partai sosial demokrasi di dalam negeri itu sama. Akan tetapi kaun sosial demokrasi bangsa Tzech dan Slowakia dan lian-lain mempunyai partai sendiri-sendiri tidak mau bercampur jadi satu partai dengan partai sosial demokrat Jerman atau Unggaria.
Jadi meski sama dan mengaku menganut paham internasionalisme yang disebut sosial demokrat, mereka tidak mau bergabung. Padahal jelas, sama-sama sosdem. Berada dalam lingkup geografis yang sama. Perbedaan suku bangsa menjadi pemisah. Perlu diingat, saat itu Kerajaan Ustria-Unggaria dikuasai oleh orang Jerman. Sementara bangsa Tzech adalah anak buah dari golongan Jerman.
Dengan gambaran itu, Bung Hatta ingin memberi tahu bahwa mereka yang berpaham Internasionalisme pun lebih memihak rasa nasionalisme (kebangsaan). Ketidak relaan berada di bawah Jerman membuat Kaum Tzech tidak mau bergabung. Meskipun satu paham dan satu aliran.
Lalu kebangsaan seperti apa yang diinginkan oleh Bung Hatta?
Ia sangat anti dengan kebangsaan yang diklaim milik golongan tertentu saja. Misalnya kebangsaan kaum ningrat. Yang menganggap bahwa yang bisa memimpin bangsa ini hanyalah kaum ningrat. Sebab rakyat kecil tak memiliki pengalaman dan kepahaman tentang pemerintahan. Ini bukanlah demokrasi. Melainkan oligarki. Si bangsawan memimpin, sementara rakyat tetap berkubang impian untuk makmur saja.
Bagi Bung Hatta, yang tepat adalah Kebangsaan Kerakyatan. Tapi kerakyatan di sini tidak sama dengan paham barat. Dimana demokrasi barat juga menganut keterwakilan atau Dewan Rakyat. Sebab Bung Hatta dengan jelas menyebut meski menganut demokrasi rakyat yang modern di mulut, kenyataannya Barat sudah terjebak oleh kapitalisme Demorkasi atau Burgerlijke Democratie.
... yang demikian tidak terdapat di dalam Kapitalistiche Democratie, di mana kaum kapitalis yang terkecil golongannya menguasai penghidupan rakyat banyak. Jadinya, demokrasi yang ada di Barat sekarang tampak pincang,...
Sejak awal Bung Hatta menginginkan agar kapitalisme tidak masuk ke Indonesia. Ia menyebutkan bahwa asas kapitalisme tidak sesuai dengan asas bangsa Indonesia sejak awal. Jika kapitalisme dibangun atas semangat individualisme, maka kedaulatan rakyat berasas pada rasa bersama-kolektivitet. Bahkan Bung Hatta memberikan gambaran lebih lanjut sebagai berikut :
...kerakyatan tidak saja dalam pergaulan politik, melainkan juga dalam urusan ekonomi dan sosial. Rakyat harus diberikan hak seluas-luasnya, yaitu berhak menyusun pemerintahannya sendiri dan mengatur ekonominya sendiri.
Sebab itu menjadi wajar dan sangat alami jika Bung Hatta mengeluarkan konsep demokrasi ekonomi yang menjadi bahan dasar koperasi. Ia tidak menginginkan kebangsaan yang tidak bersumber pada kerakyatan. Kebangsaan dan kerakyatan haruslah sejalan.
Masalahnya saat ini : benarkah rakyat berdaulat di tanah air ini?

Mantapppp pak Ari guaaantengg
ReplyDeleteTampan juga haaaaa
ReplyDelete