Luar Biasa! Saatnya Berpihak Kepada Kaum Dhuafa

 

Tak salah rasanya jika ada yang bilang bahwa sekarang yang kaya makin kaya, sementara yang miskin makin nyungsep. Sistem kapitalisme yang makin sulit ditolak dan dibendung agaknya membawa paham cinta keduniawian kian merasuk. Silahkan search saja di mesin pencari semisal Google, perbandingan antara si kaya dan miskin sedemikian menggigit. Baik perbandingan dari sisi penghasilan, kepemilikan, jumlah dan lain sebagainya. Bahkan ada berita yang menyebutkan bahwa kekayaan separuh orang miskin di seluruh dunia ini setara dengan total kekayaan dua puluh enam milliader saja. Bayangkan, hanya dua puluh enam orang setara dengan total kekayaan orang miskin. Dimana konon jumlah orang miskin di dunia ini di atas angka tujuh ratus juta orang jika menggunakan kriteria kemiskinan internasional.
Sedemikian jomplangnya. Tidak sampai lima puluh orang memiliki uang yang berlipat-lipat banyaknya dibandingkan dengan ratusan juta orang yang masih memikirkan besok akan makan apa. Tapi demikianlah kenyataan yang ada. Jika ingin dibahas dari hulu hingga hilir, tema si kaya dan si miskin tak bisa selesai dalam hitungan menit saja. Banyak sisi dan banyak hal yang berkontribusi atas kesenjangan yang ada. Berbagai data, isu maupun spekulasi bisa muncul jika kita membahas tema ini. Ini hanya tema kemiskinan saja. Sementara kemiskinan hanyalah satu bagian dari Kaum Dhuafa. Sebab itu, kali ini kita bahas di sekitaran bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap kaum dhuafa ini. Tidak melebar ke sisi politik, ekonomi kekinian dan lain sebagainya.
Kaum dhuafa diartikan sebagai golongan manusia yang hidup dalam kemiskinan, kesengsaraan, kelemahan, ketidakberdayaan, ketertindasan, dan penderitaan yang tiada putus. Muhsin dalam bukunya menyebut bahwa adanya kaum dhuafa telah menjadi realitas dalam sejarah kemanusiaan. Ia melanjutkan bahwa ada empat hal yang bisa membuat seseorang masuk ke dalam kategori dhuafa.

1. Kesulitan ekonomi dan kesengsaraan.
2. Penderitaan yang menyebabkan mereka tidak dapat bekerja.
3. Dalam keadaan tidak berdaya.
4. Dalam keadaan tertindas karena diintimidasi, dizalimi, dieksploitasi, atau dijajah.

Pada dasarnya, mereka yang tidak masuk dalam kategori di atas memiliki kewajiban untuk menolong kaum dhuafa. Tidak hanya dalam ajaran Islam, tapi dalam ajaran moralitas apapun. Semuanya menekankan perlunya saling tolong menolong, khususnya menolong mereka yang masuk dalam kategori dhuafa. Sebab pada dasarnya mereka sendiri tidak mampu keluar dari garis ke-dhuafa-an dengan segera jika tidak ditolong oleh mereka yang mampu.
Misalnya mereka yang mengalami kesulitan ekonomi. Bisa saja dengan kerja keras mereka akan beranjak dari status miskin menjadi tidak miskin. Tapi membutuhkan proses yang sedimikian lama dan bisa saja justru tidak langsung mengalami perbaikan kondisi kehidupan alias masih berada dalam zona kemiskinan. Memang ada kejadian yang tidak terduga di dunia ini dari orang miskin mendadak kaya. Semisal secara tidak sengaja menemukan bongkahan emas berkilo-kilo. Tapi itu hal yang sangat jarang terjadi.
Sebab itu, ada kewajiban tersendiri bagi mereka yang berkecukupan untuk menolong mereka yang dhuafa. Ada hak si miskin dalam harta si kaya. Sementara mereka yang masuk dalam kategori dhuafa memiliki kewajiban untuk tidak perlu berkecil hati dan putus asa. Kewajiban mencari nafkah secara halal harus terus dilakukan tanpa perlu mengharapkan bantuan dari si kaya.
Dengan pola ini, tidak ada sikap sombong dari si kaya yang harus diperlihatkan. Sebab di dalam hartanya ada hak orang miskin. Tidak hanya hak saja, mungkin saja secara tidak langsung ataupun langsung sebenarnya pendapatan orang kaya itu di sokong oleh si miskin. Tanpa adanya mereka yang bekerja di lapisan bawah, bisa saja yang di lapisan atas tidak mendapatkan penghasilan apapun.
Sikap minder pun tidak perlu muncul pada si miskin. Apalagi sikap iri hati dan dengki. Tak perlu memiliki sikap mengharap bantuan orang lain. Sebab agama apapun menghargai kerja keras. Bagi mereka yang kebetulan berada dalam posisi tak punya, berarti diberi motivasi untuk bekerja keras. Agar di masa yang akan datang hidup menjadi lebih baik.
Perlu digaris bawahi bahwa bantuan dari si kaya kepada si miskin tidak hanya berputar pada soal harta belaka. Mereka yang dhuafa kerap kali menderita dalam bentuk kebodohan dan keterbalakangan. Akses informasi yang mereka miliki sangat terbatas. Itu sebabnya mereka menjadi susah lari dari lingkaran kemiskinan. Jadi mereka yang memiliki akses informasi atau ilmu pengetahuan bisa menyumbangkan pemikiran dan pengalaman kepada kaum papa.
Sebagai penutup dari pengantar pembahasan buku 'Menyayangi Dhuafa" karya Drs. Muhsin, M.K., S.Ag., M.Sc. ini, perlu diingat bahwa nyaris tidak ada orang yang bercita-cita untuk menjadi dhuafa. Belum ada rasanya mereka yang memproklamirkan diri bercita-cita menjadi orang termiskin di dunia. Sebab itu, mereka yang punya tak perlulah merasa jumawa dengan keadaan lalu mengatakan bahwa mereka yang miskin disebabkan oleh kelakuan mereka sendiri. Lebih baik membantu menarik mereka dari jurang kemiskinan. Apalagi membuat konten di media sosial untuk memperlihatkan kekayaan diri, lalu mencaci maki mereka yang tidak punya.

No comments:

Post a Comment